Pertanyaan apakah nilai ujian sekolah itu murni kembali mengemuka setelah Universitas Nusa Cendana (Undana) menemukan manipulasi data dalam seleksi jalur mandiri tahun 2026.
Tim verifikasi Undana mendeteksi sejumlah peserta yang sengaja menaikkan daftar nilai ujian mereka di sistem pendaftaran. Temuan ini membuka tabir bahwa nilai ujian sekolah tidak selalu mencerminkan kemampuan asli siswa.
1. Manipulasi Nilai Rapor yang Terungkap di Undana
Proses verifikasi yang dilakukan selama dua minggu oleh tim Undana mengungkap praktik pengubahan data nilai rapor oleh peserta. Kepala Kelompok Kerja Data Akademik Undana, Hendro Soepranoto, menyatakan ada peserta yang mengisi nilai tidak sesuai dengan dokumen asli.
Misalnya, seorang peserta mengunggah nilai asli 80 tetapi menuliskan 90 di sistem pendaftaran. Tindakan ini sulit dianggap sebagai kesalahan input biasa karena indikasi kesengajaan sangat kuat.
Akibatnya, tim seleksi langsung melakukan koreksi berdasarkan dokumen resmi yang valid. Kejadian ini menjadi contoh nyata bahwa nilai ujian sekolah rentan dimanipulasi jika tidak ada pengawasan ketat.
2. Peran AI dalam Menurunkan Orisinalitas Nilai Ujian
Selain manipulasi nilai, Undana menemukan sekitar 70 persen jawaban esai deskripsi diri peserta memiliki kemiripan tinggi yang mengindikasikan penggunaan AI. Peserta menggunakan AI untuk menghasilkan jawaban yang terlihat baik, tetapi isinya generik dan tidak personal.
Padahal, komponen deskripsi diri dirancang untuk mengukur cara berpikir dan pengalaman unik setiap individu. Wakil Rektor I Undana, Dr. drh. Annytha Detha, menegaskan bahwa penggunaan AI pada bagian ini justru merugikan peserta karena skor deskripsi diri bisa turun drastis.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai ujian yang dihasilkan dengan bantuan AI tidak murni berasal dari kemampuan peserta. Dampaknya, hasil nilai ujian menjadi tidak valid sebagai indikator kesiapan akademik.
3. Verifikasi Berlapis untuk Menjaga Keaslian Transkrip Nilai Ujian Sekolah
Undana menerapkan sistem verifikasi berlapis dengan memeriksa kesesuaian data yang diunggah dengan transkrip nilai ujian sekolah asli. Tim bekerja selama dua minggu untuk memastikan setiap angka yang dimasukkan peserta sesuai dengan dokumen dari sekolah.
Meskipun temuan manipulasi cukup banyak, Undana tidak langsung mendiskualifikasi peserta. Mereka menyesuaikan penilaian berdasarkan data yang sebenarnya, sehingga peserta yang berbuat curang tetap mendapat nilai sesuai kondisi riil.

Ketegasan ini menjadi pelajaran penting bagi calon mahasiswa bahwa kejujuran dalam melaporkan nilai ujian sangat dihargai. Praktik curang hanya akan merugikan diri sendiri karena nilai akhir tetap dikoreksi oleh tim verifikasi.
4. Dampak Manipulasi Nilai terhadap Mutu Pendidikan
Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Winston Rondo, mengecam keras praktik manipulasi nilai yang ditemukan Undana. Ia menegaskan bahwa kejujuran adalah modal paling mahal dalam pendidikan, dan pelaku harus diberi sanksi setimpal.
Menurutnya, tindakan semacam ini merusak sistem pendidikan dan mencederai integritas akademik. DPRD NTT berencana membahas temuan ini bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT agar ke depannya tidak terulang.
Kasus ini juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap nilai ujian rendah di beberapa sekolah. Jika dibiarkan, manipulasi nilai akan menurunkan kualitas lulusan dan kepercayaan publik terhadap data akademik.
5. Solusi Menjaga Kemurnian Nilai Ujian Sekolah
Sekolah-sekolah seperti SMKN 2 Kupang sudah menggunakan sistem E-rapor yang terintegrasi dengan Dapodik Kemendikdasmen. Sistem ini mengunci nilai secara otomatis setelah dicetak, sehingga peluang manipulasi sangat kecil.
Namun, kejadian di Undana menunjukkan bahwa masih ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh oknum. Penguatan sistem verifikasi dan sosialisasi integritas akademik menjadi kunci untuk menjaga kemurnian nilai ujian sekolah.
Peserta seleksi juga harus sadar bahwa nilai ujian yang dimanipulasi tidak akan memberikan manfaat jangka panjang. Lebih baik mengikuti tes atau jalur lain dengan persiapan jujur daripada berisiko dikenai sanksi di kemudian hari.
Kesimpulan
Kasus manipulasi nilai di Undana tahun 2026 membuktikan bahwa nilai ujian sekolah tidak selalu murni dan patut dipertanyakan keasliannya. Praktik curang melalui pengubahan daftar nilai maupun penggunaan AI dalam esai menjadi ancaman serius bagi validitas hasil ujian.
Oleh karena itu, diperlukan sistem verifikasi yang ketat, penggunaan teknologi seperti E-rapor, serta penanaman nilai kejujuran sejak dini. Hanya dengan cara itu, nilai ujian sekolah dapat kembali dipercaya sebagai cerminan kemampuan sejati siswa.
